Di sebuah kedai kopi di kota Ismailiyah pada Maret 1928, seorang guru bahasa Arab berusia 22 tahun mengumpulkan enam pekerja Terusan Suez dan mendirikan sebuah perkumpulan sederhana bernama Ikhwanul Muslimin. Guru itu bernama Hasan al-Banna. Dua puluh satu tahun kemudian ia tewas ditembak di jalanan Kairo, tetapi gerakan yang ia rintis telah tumbuh menjadi organisasi Islam transnasional paling berpengaruh di abad ke-20, yang gagasan serta cabangnya masih membentuk peta politik Timur Tengah hingga hari ini.
Biodata & Profil Singkat
| Atribut | Keterangan |
| Nama Lengkap | Hasan Ahmad Abdurrahman Muhammad al-Banna as-Sa’ati |
| Lahir | 14 Oktober 1906, Mahmudiyah, Buhairah, Mesir |
| Wafat | 12 Februari 1949, Kairo, Mesir (usia 42 tahun) |
| Ayah | Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna as-Sa’ati, ulama fiqih dan hadis |
| Almamater | Darul Ulum, Kairo |
| Peran Utama | Pendiri dan Mursyid pertama Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) |
| Karya | Mudzakkirat al-Dakwah wa al-Da’iyah; Majmu’at ar-Rasail |
Masa Kecil di Mahmudiyah
Hasan al-Banna dilahirkan pada 14 Oktober 1906 di desa Mahmudiyah, kawasan Buhairah, Mesir. Ayahnya, Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna, adalah seorang ulama fiqih dan hadis yang juga bekerja memperbaiki jam, sehingga masyarakat mengenalnya dengan gelar as-Sa’ati atau ahli jam. Dari ayahnya, Hasan muda mewarisi dua hal sekaligus, disiplin kerja tangan dan kedalaman ilmu agama.
Pada usia 12 tahun, atas bimbingan sang ayah, Hasan telah menghafal separuh isi Alquran. Sang ayah terus memotivasinya hingga ia melengkapi hafalan seluruh 30 juz pada usia sekitar 14 tahun. Kegiatannya ia atur dengan disiplin ketat, siang hari untuk sekolah, sore untuk membantu usaha jam orang tuanya, sementara mengulang hafalan ia lakukan selesai salat Subuh.
Kecerdasannya terbuktikan di bangku sekolah. Hasan al-Banna lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya dan masuk jajaran lima besar terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun ia diterima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum di Kairo, lembaga pendidikan guru yang memadukan ilmu agama dengan metode keilmuan modern.
Jiwa Kepemimpinan yang Tumbuh Sejak Remaja
Sejak masa pendidikan i’dadiyah, setara sekolah menengah pertama, al-Banna selalu terpilih memimpin organisasi siswa. Satu kisah kerap dikutip untuk menggambarkan kedewasaannya. Suatu siang, para siswa hendak berwudu di mushala kampung ketika sang imam mengusir mereka karena khawatir air wudu habis. Sebagian besar siswa lari, tetapi al-Banna menulis sepucuk surat sopan yang ditutup dengan penggalan ayat Alquran, “Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya,” lalu menyerahkannya kepada imam mushala itu dengan hormat.
Sikap imam tersebut berubah total sejak hari berikutnya. Para murid pun bersepakat mengisi kembali kolam wudu usai salat, bahkan mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushala. Kisah kecil ini memperlihatkan kunci kepemimpinan al-Banna yang kelak ia pakai sepanjang hidupnya, menghadapi konflik dengan adab, dalil, dan solusi konkret.
Guru Muda di Tengah Krisis Umat
Pada usia 21 tahun, al-Banna menamatkan studi di Darul Ulum dan ditugaskan menjadi guru bahasa Arab di kota Ismailiyah di tepi Terusan Suez. Di sana ia menyaksikan langsung dominasi Inggris atas Mesir, termasuk perusahaan Terusan Suez yang dikuasai asing dan kamp-kamp pekerja Inggris yang hidup berkecukupan di tengah rakyat Mesir yang miskin.
Kondisi dunia Islam saat itu memang sedang gonjang-ganjing. Kekhalifahan Utsmaniyah, yang pernah berjaya di bawah Muhammad al-Fatih, runtuh dan secara resmi dihapuskan pada 1924. Kemal Ataturk memberangus simbol-simbol Islam di Turki. Umat Islam kehilangan payung politik kepemimpinannya, sementara gelombang westernisasi merambah pemikiran, budaya, dan struktur sosial.
Al-Banna menyimpulkan bahwa sumber kemunduran umat adalah kejauhan dari ajaran Islam dan tidak terpahaminya agama secara benar. Ia menulis dalam catatan dakwahnya mengenai kondisi generasi saat itu:
“Umat ini jahil terhadap ajaran agamanya sendiri, dan kebodohan itulah pangkal dari segala kemunduran yang menimpanya.”
Kelahiran Ikhwanul Muslimin
Pada Maret 1928, tepat empat tahun setelah penghapusan khilafah, al-Banna mendirikan Jamaah al-Ikhwan al-Muslimin di Ismailiyah bersama enam pengikut awalnya, yakni Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Hushari, Fuad Ibrahim, Ismail Izz, Zaki al-Maghribi, dan Abdurrahman Hasbullah. Keenam pendampingnya sebagian besar adalah pekerja dan pedagang kecil yang sepakat menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membiayai dakwah.
Dakwah awalnya sederhana dan sangat membumi. Al-Banna berbicara di kedai-kedai kopi secara teratur, menggalang murid-muridnya, membangun masjid dan sekolah, serta menggerakkan kegiatan sosial. Perpindahannya kemudian dipindahkan ke Kairo pada awal 1930-an atas permintaannya sendiri, dan dari ibu kota gerakan itu menyebar dengan kecepatan luar biasa.
Ia merumuskan visi gerakannya secara lugas dalam risalah-risalahnya:
“Sesungguhnya kalian adalah ruh baru yang mengalir dalam tubuh umat ini, menghidupkannya dengan Alquran.”
Salah satu ajaran intinya yang paling dikenal adalah rumusan perjuangan dakwah yang hingga kini menjadi motto gerakan:
“Allah adalah tujuan kami, Rasul adalah teladan kami, Alquran adalah undang-undang kami, jihad adalah jalan kami, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi.”
Gerakan Massal Terbesar di Mesir
Menjelang akhir 1930-an, Ikhwanul Muslimin telah memiliki ratusan ribu anggota di Mesir. Sejumlah kajian akademis memperkirakan kekuatannya menembus 500 ribu anggota dengan cabang yang menjangkau seluruh provinsi, didukung jaringan masjid, sekolah, klinik, koperasi, bahkan pabrik kecil. Dukungan datang dari lintas kelas sosial, mulai buruh dan petani hingga pedagang, intelektual, dokter, dan ulama.
Ketika perang Arab-Israel pecah pada 1948, Ikhwanul Muslimin mengirim pasukan sukarela ke Palestina. Kontingen relawan Ikhwan tercatat sebagai salah satu kelompok sukarelawan yang paling gigih dalam pertempuran-pertempuran awal di front Palestina, sekaligus memperkokoh citra gerakan di mata publik Arab.
Namun ketenaran itu juga menyeret gerakan ini ke politik gelap Mesir. Pada Desember 1948, Perdana Menteri Mahmud Fahmi an-Nuqrasy membubarkan Ikhwanul Muslimin. Beberapa pekan kemudian an-Nuqrasy dibunuh oleh seorang anggota Ikhwan, sebuah tindakan yang secara terbuka dikecam oleh al-Banna.
Kematian di Jalanan Kairo
Penolakan al-Banna terhadap kekerasan politik tidak menyelamatkannya. Pada 12 Februari 1949, saat menunggu taksi di depan kantor Perhimpunan Pemuda Muslim di Kairo bersama saudara iparnya, ia ditembak oleh penyerang tak dikenal yang kini diyakini terkait aparat keamanan rezim. Tujuh peluru bersarang di tubuhnya. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit Qasr al-Aini, tetapi lambatnya penanganan medis membuat nyawanya tak tertolong. Hasan al-Banna wafat pada usia 42 tahun.
Encyclopaedia Britannica mencatat pembunuhan itu terjadi dengan keterlibatan pihak pemerintah Mesir. Pemerintah bahkan melarang prosesi pemakaman besar, dan jenazahnya hanya boleh diantar segelintir kerabat ke pemakaman.
Warisan yang Hidup Setelah Kematian
Sepeninggal al-Banna, Ikhwanul Muslimin menempuh jalan panjang penuh cobaan. Pada era Gamal Abdel Nasser, gerakan ini diberangus; ribuan anggotanya dipenjara dan sejumlah tokohnya dieksekusi, termasuk pemikirnya yang paling berpengaruh, Sayyid Quthb, yang menulis tafsir Fi Dzilalil Quran di balik jeruji. Tafsir ini kelak menjadi rujukan luas dunia Islam dan turut memengaruhi penerjemahan Alquran di Indonesia.
Pada 2011 angin Arab Spring mengubah peta secara dramatis. Ikhwanul Muslimin, melalui Partai Kebebasan dan Keadilan, memenangi pemilu parlemen dan mengantarkan Mohamed Morsi menjadi presiden demokratis pertama Mesir pada 2012 dengan 51,7 persen suara. Namun kemenangan itu berumur pendek. Morsi digulingkan lewat kudeta militer Juli 2013 lalu wafat dalam tahanan pada 2019. Pemerintahan Abdel Fattah el-Sisi kembali memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam daftar organisasi terlarang, dan hingga 2025 ribuan simpatisannya tetap dipenjara atau hidup di pengasingan di Qatar, Turki, dan Eropa.
Babak mutakhirnya bahkan merambah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Pada Januari 2026, Washington menetapkan cabang Ikhwanul Muslimin di Mesir, Lebanon, dan Yordania sebagai organisasi teroris asing, keputusan yang memicu perdebatan panjang di kalangan pengamat karena struktur Ikhwan yang terdesentralisasi dan beragam pandangan antar cabangnya di berbagai negara.
Meski dilarang di banyak negeri, pengaruh pemikiran al-Banna terus hidup. Partai AKP di Turki, Hamas di Palestina, Ennahda di Tunisia, hingga gerakan tarbiyah di Indonesia mengakar pada tradisi intelektual yang ia rintis. Karya-karyanya, Mudzakkirat al-Dakwah wa al-Da’iyah dan Majmu’at ar-Rasail, tetap dicetak ulang dan dipelajari di pesantren serta kampus-kampus hingga hari ini.
Prinsip Dakwah yang Menginspirasi Lintas Generasi
Apa yang membuat sosok al-Banna terus dipelajari bukan sekadar organisasinya, melainkan metodenya. Ia menegaskan pendidikan sebagai pilar kebangkitan dalam surat-suratnya:
“Pendidikan harus menjadi pilar kebangkitan. Umat Islam harus terdidik agar mengerti hak-haknya yang harus diterimanya secara utuh, dan mempelajari berbagai sarana untuk memperoleh hak-hak tersebut.”
Putranya sendiri, Saiful Islam al-Banna, mengenang pendekatan kebapakan sang pendakwah dengan kalimat sederhana:
“Ayah mengajari kami dengan penuh cinta kasih, ketulusan, kelembutan, dan penuh rasa harap.”
Dalam sejarah Islam modern, Hasan al-Banna menempati posisi unik. Ia bukan penguasa, bukan panglima perang, melainkan seorang guru sekolah yang membaca zaman dengan jernih lalu menjawabnya dengan organisasi, pendidikan, dan dakwah yang sistematis. Seratus tahun setelah perkumpulan kecil di kedai kopi Ismailiyah itu berdiri, gema gagasannya masih terasa di seluruh dunia Islam.
Referensi
Britannica, The Editors of Encyclopaedia. (2024). Hassan al-Banna: Biography, History, Ideology, and Facts. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Hassan-al-Banna
Wikipedia. (2026). Muslim Brotherhood. Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_Brotherhood
Wikipedia Bahasa Indonesia. (2026). Ikhwanul Muslimin. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimin
Detik News. (2026). AS Akan Tetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai Organisasi Teroris Asing. DetikNews. https://news.detik.com/internasional/d-8225476/
University of Exeter Special Collections. (2019). The El-Awaisi Archive (EUL MS 284) and the Muslim Brotherhood. University of Exeter. https://specialcollections.exeter.ac.uk/2019/10/08/the-el-awaisi-archive-eul-ms-284-and-the-muslim-brotherhood
Jurnal Raudhah. (2019). Pemikiran Hasan Al-Banna dalam Pendidikan Islam. Raudhah, 4(2). https://doi.org/10.48094/raudhah.v4i2.51



























