Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi Cyrus Yang Agung: Pendiri Kekaisaran Persia Achaemenid

NOleh: Nurdyansa
(Diperbarui: 16 Sep 2026)

Pada musim gugur tahun 539 SM, gerbang Babilonia terbuka tanpa pertumpahan darah. Tentara Persia berbaris masuk kota terkaya di dunia kuno itu, disambut rakyat yang justru lelah terhadap rajanya sendiri. Di ujung arak-arakan itu berdiri Cyrus II dari Parsa, sosok yang dalam tiga dasawarsa mengubah suku kecil di barat daya Iran menjadi penguasa kekaisaran terbesar yang pernah ada di muka bumi hingga zamannya.

Potret Cyrus Yang Agung
Potret resmi Cyrus Yang Agung.

Biodata & Profil Singkat

AtributKeterangan
Nama LengkapCyrus II dari Persia (Kurush dalam bahasa Persia kuno)
LahirSekitar 600-590 SM, Persis (kini provinsi Fars, Iran)
Wafat530 atau 529 SM, di Asia Tengah dalam kampanye melawan Massagetae
DinastiAchaemenid (Hakhaimanisya)
Masa Berkuasa559 hingga 530 SM
Peran UtamaPendiri Kekaisaran Persia Achaemenid, penakluk Media, Lydia, dan Babilonia
PenerusCambyses II
Warisan TerkenalSilinder Cyrus, pembebasan orang Yahudi dari pembuangan Babel, model pemerintahan toleran terhadap agama dan adat setempat

Masa Muda dan Legenda Kelahiran

Cyrus lahir di wilayah Persis, negeri dataran tinggi di barat daya Iran yang saat itu berada di bawah pengaruh Kekaisaran Media. Para penulis Yunani mencatatnya sebagai putra Cambyses I, penguasa lokal kaum Parsa, dan Mandane, putri Raja Media Astyages. Versi lain yang ditulis Herodotus justru menyebut ia berasal dari keluarga biasa yang merebut takhta, sebuah versi yang oleh kebanyakan sejarawan modern dianggap propaganda belakangan.

Di sekitar kelahirannya melekat legenda yang mirip kisah Oedipus versi Persia. Astyages konon bermimpi cucunya kelak merenggut takhtanya, lalu memerintahkan bayi yang baru lahir itu dibunuh. Petugas yang ditugaskan tak tega, menitipkan bayi itu pada sepasang penggembala yang membesarkannya sebagai anak sendiri. Bertahun-tahun kemudian sang pemuda terbukti memenuhi ramalan: ia merebut kekuasaan sang kakek. Sejarawan menilai kisah ini sebagai dongeng pembungkus legitimasi, tetapi ia menunjukkan betapa kuat citra Cyrus sebagai penguasa takdir dalam ingatan bangsanya.

Pemberontakan Melawan Media dan Kelahiran Sebuah Dinasti

Sekitar tahun 559 SM Cyrus naik takhta kaum Parsa menggantikan ayahnya, masih sebagai bawahan Raja Astyages dari Media. Sepuluh tahun kemudian, tahun 550 SM, ia memberontak. Perang yang lazimnya diperkirakan berlangsung berat justru selesai cepat: pasukan Astyages membelot dan menyerahkan raja mereka sendiri. Ibu kota Media di Ecbatana jatuh, dan kekaisaran yang berusia satu setengah abad itu berpindah tangan.

Kemenangan ini lebih tepat disebut pergantian dinasti daripada penaklukkan asing. Bangsa Media dan Persia berdekatan asal-usul dan bahasa. Cyrus mempertahankan sebagian besar hukum dan tata administrasi Media, dan sejarawan Yunani maupun Persia kemudian sama-sama merawat gambarannya sebagai penguasa yang sah di mata bangsa yang ia gantikan. Dari titik itu ia menyebut diri "Raja Persia, Raja Agung, Raja Para Raja", gelar yang kelak dipakai para penerus dinasti Achaemenid selama dua abad berikutnya.

Penaklukan Lydia dan Kemenangan atas Croesus

Langkah besar berikutnya mengarah ke barat. Croesus, Raja Lydia di Anatolia yang kesohor karena kekayaannya, menghitung peluang dan menyerbu lebih dulu ke wilayah Media bekas sekutunya yang kini dikuasai Cyrus. Perang pecah sekitar 547-546 SM. Setelah pertempuran menggantung di Pteria, Croesus mundur ke ibu kotanya Sardis untuk menunggu musim semi dan sekutu, tetapi Cyrus justru mengejar di musim dingin. Sardis jatuh setelah pengepungan singkat, Croesus tertangkap, dan seluruh Asia Kecil termasuk kota-kota Yunani di pantai Ionia masuk ke dalam wilayahnya.

Penaklukan Lydia membawa dua hal sekaligus: cadangan emas yang luar biasa dan, untuk pertama kalinya, perbatasan langsung kekaisarannya dengan dunia Yunani. Cyrus lalu berbalik ke timur, mengamankan wilayah Parthia, Drangiana, Arachosia, Margiana, dan Bactria. Kekaisaran baru itu kini membentang jauh melampaui wilayah yang pernah dikuasai Media.

Babilonia dan Puncak Mahakarya Politik

Tahun 539 SM menjadi puncak karier Cyrus. Babilonia, kota terkuat dan terkaya di dunia kuno, berada di bawah Nabonidus, raja yang tidak populer karena mengabaikan kultus dewa Marduk dan wali kotanya. Cyrus mengalihkan aliran Sungai Efrat dan memasukkan pasukannya lewat dasar sungai pada malam pesta rakyat. Kota itu jatuh nyaris tanpa perlawanan.

Di sanalah bertebaran sumber terpenting mengenai karakternya. Silinder Cyrus, gulungan tanah liat bertulisan kuneiform yang kini tersimpan di British Museum, memuat pernyataan bahwa ia mengembalikan patung-patung dewa ke kota masing-masing, memulangkan rakyat yang diasingkan, dan melarang penjarahan. Kitab Ezra dan Yesaya dalam Alkitab menempatkannya sebagai sosok yang diperbolehkan Tuhan membebaskan orang Yahudi dari pembuangan Babel dan memerintahkan pembangunan kembali Bait Suci Yerusalem.

"Marduk memperhatikan segala negeri dan mencari seorang penguasa yang benar, lalu memanggil Cyrus, Raja Anshan, untuk memimpin semua." (Silinder Cyrus, dalam terjemahan British Museum)

"Inilah firman Cyrus, Raja Persia: Tuhan, Allah semesta langit, telah memberikan kepadaku segala kerajaan di bumi, dan Ia telah mengamanatkan aku untuk mendirikan sebuah rumah bagi-Nya di Yerusalem." (Kitab Ezra 1:2)

Para sejarawan memperingatkan bahwa silinder itu juga propaganda rezim baru. Namun polanya tetap menonjol dibanding para penakluk Assyria dan Babilonia sebelumnya yang membakar kota dan memindahkan penduduk dalam jumlah besar. Kebijakan Cyrus lebih dekat pada tata kelola imperium: melestarikan agama, elit lokal, dan susunan administrasi wilayah yang ditaklukkan.

Silinder Cyrus, prasasti tanah liat dari Babilonia tahun 539 SM yang kini tersimpan di British Museum

Akhir Hayat dan Warisan

Dengan barat dan pusat Mesopotamia aman, Cyrus menghabiskan tahun-tahun akhirnya mengonsolidasikan struktur kekaisaran. Ia membagi wilayah ke dalam provinsi-provinsi yang dipimpin gubernur, melanjutkan tradisi Media yang kelak disempurnakan Darius I ke dalam sistem satrapi dengan perpajakan, jalan raya, dan pos cepat yang menjadikan kekaisaran ini bisa bertahan dua abad.

Tahun 530 atau 529 SM ia memimpin pasukan melawan Massagetae, suku nomad penunggang kuda di Asia Tengah, timur laut Laut Kaspia. Herodotus menuturkan pertempuran kedua berakhir buruk: pasukan Persia kalah dan Cyrus tewas dalam pertempuran, menurut beberapa versi dikalahkan pasukan Ratu Tomyris. Mayatnya kembali ke Pasargadae, ibu kota yang ia dirikan, dan dimakamkan di sebuah mausoleum sederhana dari batu yang hingga hari ini masih berdiri di provinsi Fars, Iran.

Karakter Kepemimpinan dan Warisan Model Pemerintahan

Yang membedakan Cyrus dari sebagian besar penakluk kuno bukan hanya luas wilayahnya, melainkan cara ia memerintah. Xenophon, yang menulis Cyropaedia sekitar dua abad kemudian, menjadikannya contoh utama penguasa ideal dunia kuno.

"Cyrus mampu memperluas kekaisarannya bukan terutama berkat kekuatan senjata, melainkan kemampuannya memenangkan hati para pendukungnya, sebab ia dicintai bukan hanya oleh bawahannya tetapi juga oleh rakyat negeri yang ia taklukkan." (Xenophon, Cyropaedia, buku VIII)

Penilaian modern lebih berhati-hati, tetapi banyak sejarawan tetap menganggapnya pionir tata kelola multikultural: kekaisaran yang mengakui keragaman bahasa, agama, dan hukum lokal, sepanjang wilayah tunduk pada pajak dan ketertiban umum. Model ini kemudian menjadi cetak biru imperium besar berikutnya, dari Aleksander Agung hingga kekaisaran Islam dan Ottoman.

Di Iran masa kini, ia dihormati sebagai pendiri bangsa. Tahun 1971 pemerintahan Shah menyelenggarakan perayaan 2.500 tahun monarki Persia di Pasargadae dengan menempatkan makam Cyrus sebagai pusat peringatan. Di Inggris dan dunia internasional, Silinder Cyrus sempat dijuluki "piagam hak asasi manusia pertama", meski para ahli menegaskan istilah itu lahir dari pembacaan modern dan bukan maksud naskah aslinya.

Letak Sejarah Cyrus dalam Peradaban Dunia

Letak Cyrus dalam sejarah adalah titik balik. Sejak lebih dari dua ribu tahun sebelumnya, pusat peradaban sejarah tercatat berada di Mesopotamia dan lembah Nil. Dengan berdirinya Kekaisaran Achaemenid, pusat gravitasi politik bergeser ke Iran dan orang-orang berbahasa Indo-Eropa. Selama hampir dua abad berikutnya kekaisaran yang ia dirikan membentang dari Thrace hingga lembah Indus, menampung banyak kebudayaan besar dunia kuno dalam satu sistem pemerintahan.

Para sejarawan memperhitungkan artinya bukan pertama-tama hitungan pertempuran, tetapi fakta bahwa struktur yang ia bangun bertahan lama setelah ia tiada. Bahkan setelah Achaemenid runtuh oleh Aleksander Agung pada 330 SM, gagasan kekaisaran toleran yang ia cetuskan terus hidup dalam kekaisaran seleukia, Parthia, dan Sasaniyah, dan diakui bahkan oleh musuh-musuh politiknya. Xenophon yang Yunani memujinya, kitab suci Yahudi menyanjungnya, dan tradisi Persia menganggapnya bapak bangsa.

Referensi

British Museum. (2024). The Cyrus Cylinder. The Trustees of the British Museum. https://www.britishmuseum.org/collection/object/W_1880-0617-1941

Briant, P. (2002). From Cyrus to Alexander: A History of the Persian Empire. Winona Lake: Eisenbrauns.

Herodotus. (2008). The Histories (R. Waterfield, Trans.). Oxford: Oxford University Press.

Encyclopaedia Iranica. (1993). Cyrus II (Cyrus the Great). Encyclopaedia Iranica Foundation. https://iranicaonline.org/articles/cyrus-iii

Xenophon. (2014). The Education of Cyrus (W. Ambler, Trans.). Ithaca: Cornell University Press.

The Editors of Encyclopaedia Britannica. (2025). Cyrus the Great. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Cyrus-the-Great

Topik Terkait:#Persia#Cyrus Yang Agung#Babilonia#Achaemenid#Sejarah Dunia

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content